RSS

TERRAVOICES PINDAH

Udah agak lama gw pindah, tapi memang yang tahu cuma orang-orang deket sih. So, sekarang, dengan ini, gw menyatakan kalo blog ini (http://www.terravoices.wordpress.com) SUDAH PINDAH ke alamat barunya (http://www.ershin.terravoices.com), dengan KONTEKS YANG SAMA.

 

Malah udah ada banyak penambahan setelah post terakhir tentang NXI itu :))

Kalo ada yang pengen menghubungi gw, di blog yang baru itu juga lengkap kontak gw-nya, twitter juga ada. Sampai bertemu di tempat yang baru, ya. 😀

PS: tempat baru juga pake engine WordPress kok, jadi jangan lupa difollow, dilike, dan dishare seperti biasa pake kita pake WordPress. 😀

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , , , , , , , , ,

NXI And How’s Inside

“Dari sebuah interaksi sosial, akan terlihat orang yang menonjol karena keunggulannya, yang terlihat menonjol karena kekurangannya, dan di tengah-tengah mereka, terdapat orang-orang normal”.

Sebuah quote yang tetiba terpikir setelah mengamati NXI selama beberapa saat tahun. Well, grup ini uda mkin berkembang, terhitung sejak gw jadi admin tahun 2008 (kalo ngga salah) dengan jumlah member yang baru 200-300an, sampe sekarang tercatat 2.757 member (22 Januari 2013) dan itu semua gw dan admin-admin yang lain ngga mempromosikan grup ini kemana-mana. Gw cukup bangga. 🙂

Dari dulu sampe sekarang, yang namanya konflik tentu ada. Sebagai admin, gw kadang harus tegas, dan mungkin beberapa diantaranya -gw akui- terlalu tegas, sampe-sampe ada orang-orang yang sakit hati sama gw dan keluar dari grup, ujung-ujungnya bikin grup-grup tandingan NXI, yang sayangnya, belum dikelola dengan baik.

Beberapa dari grup ini make “Indonesia” juga sebagai namanya. Dikasih embel-embel persatuan, tempat berkumpulnya blabla se-Indonesia, dan kecap-kecap lainnya. Gw geli. Ngapain kalian ngomongin persatuan kalo kalian sendiri lahir dari “sayap kiri”? ngapain ngomongin persatuan kalo kalian sendiri ternyata pecahan dari komunitas yang uda ada? Ngapain ngomongin persatuan kalo kalian bikin grup sendiri-sendiri dengan embel-embel persatuan? Berawal dari situ gw berkesimpulan, ternyata “bikin tandingan” masih marak dilakukan di Indonesia kalo ada hal yang menurut seseorang ngga bagus.

Ujungnya, dedikasi dan aktivasi serta kemampuan untuk mengayomi melakukan seleksi alamnya sendiri. NXI tetep menunjukkan eksistensinya dengan jumlah member terbanyak, ajang komunikasi yang paling sibuk (karena jumlah membernya yang banyak itu), masih jauh di atas grup-grup sebelah. Well, sebenernya bukan ini tema yang pengen gw omongin sih. Yang pengen gw omongin lebih ke netiket orang-orangnya, member-member yang ada di dalem NXI itu sendiri.

*******

Dulu, pas 2008an, yang aktif di NXI lbih banyak dan lebih stabil tingkat keaktifannya. Ada Tya, Pina toa, Afi, Farah, Gandy, Nanaz, Alpan, dan banyak nama lagi yang gw lupa. Akhirnya, karena tingkat keaktifan mereka yang tergolong tinggi, gw kasihlah kepercayaan jadi Officer (jaman dulu ada Officer) dan Admin.

I was right for a short time. Dengan dijadikan officer, mereka bisa bawa influence mereka ke para pumper yang ada di deket mereka, thus menjadikan NXI lebih baik lagi dalam mengelola informasi dan menjaga persatuan internal grup.

Sistem ini rusak waktu Facebook menghapus sistem officer dan menjadikan para officer sebagai admin. Dengan admin yang terlalu banyak, akhirnya dipangkaslah satu-satu, sampe menyisakan beberapa nama sahaja.

*******

Makin besar grup, makin banyak membernya, makin gede pula tanggung jawab adminnya, khususnya menengahi pertikaian kalo ada. Kadang si admin ini juga harus siap untuk disirikin sama salah satu pihak. Yah, resiko. 😐 Untuk sementara sih gw belum lihat orang-orang dngan tingkat keaktifan tinggi, stabil, dan mengayomi, jadi gw memutuskan masi bakal jadi admin NXI untuk beberapa saat kedepan.

Masalahnya, orang dengan netiket yang ngga terlalu baik, biasanya punya pemikiran tertentu juga. Pemikiran yang kadang terlalu “aneh” dan sebetulnya belum menuntut tingkat pertahanan diri segede itu. Need some examples? I’ll give you just one: ada yang sempet bilang kalo orang yang anti RCT berarti anti Tuhan. LOLOLOL. Yang boneng aja gan. Kok nyambungnya kesana? XD

Well, see what I’m talking about? Biasanya orang yang punya pemikiran bulat itu juga punya keberanian untuk mempertahankan pendapatnya… Seabsurd apapun itu. Yang radikal aja ada, pasti yang pemikirannya hanya ‘agak’ aneh juga bertebaran. Kadang jadi bahan ejekan grup (susah kalo member ada ribuan begitu dan harus nahan ketikan mereka satu-satu), kadang diinget-inget terus sepanjang masa, kadang juga dilupain dan malah diterima dengan baik sama member yang lain.

*******

Well, selama ada berbagai macem member di NXI, gw yakin, NXI masih bakal terus aktif sebagai sarana perpindahan informasi yang baik untuk para anggotanya.Apalagi membernya uda banyak. Yang perlu diawasi cuma netiket dari beberapa minoritas yang mungkin bisa memicu flame, tapi sampe sejauh ini ngga terlalu sering laah. Cukup buat (kadang-kadang) jadi bahan lawak, ketawa-ketawa sambil ngunyah makanan, ngeliat komen-komen baru bermunculan satu-satu, semua dengan emosinya masing-masing. 😀

 
1 Comment

Posted by on January 23, 2013 in Arcade Gaming, Voice of Pieces

 

Tags: , , , , , , ,

VA Voyage

Gw, untuk pertama kalinya, menyuarakan keinginan gw untuk pulang ke Banyuwangi dan bikin lapangan pekerjaan di kampung halaman gw, jadi pelopor di beberapa bidang usaha thus bisa ngajak beberapa temen gw yang kurang beruntung untuk maju bersama. Suara gw gw utarain ke orang yang paling punya pengaruh ke gw untuk saat ini: babeh gw. Dan alih-alih menanggapi suara gw, babeh menyuarakan hal lain. Oke, gw nyadar babeh OOT, tapi gw ngga maksa doi buat stay fokus, soalnya gw harus denger dulu apa yang pengen dia sampaikan.

Nanti kalo obrolan kedua masih OOT, baru gw fokusin.

Tapi, alih-alih OOT yang bikin bete, OOT kali ini bikin gw tambah bingung tentang apa yang harus gw lakukan untuk kedepannya. Bikin gw ragu untuk permanently do a homecoming.

*******

Gw punya mimpi. Gw bakal pergi ke Romania dan hidup di sana sampe akhir hayat gw. Seems too high, huh? Well, first, it’s a dream indeed. Second, I’m serious dreaming this thing that i write it down here. GW PENGEN PERGI KE ROMANIA.
Gw udah googling harga tiket Jakarta-Dubai-Bucharest. Gw uda punya estimasi biaya yang harus gw siapin sebelum gw bisa mapan disana. Gw uda cari-cari cara gimana supaya biaya awal tadi bisa tercapai. Semua langkah awal yang bisa gw lakukan uda gw lakukan.

Selain ke Romania, gw juga punya mimpi tipis untuk tetep ada di kota orang sampe tua nanti. Kalo gw bisa sukses di kota orang, ngapain balik kota kelahiran gw yang terbilang kecil?

Tapi akhir-akhir ini, mimpi paling besar justru pulang ke Banyuwangi, bikin usaha yang belum ada di sana, bikin lapangan pekerjaan baru, berharap itu bakal sukses, laku, dan bikin lapangan pekerjaan buat temen-temen gw yang notabene kurang beruntung. Gw punya mimpi maju bareng mereka, bikin kehidupan mereka lebih layak. Miris gw denger sohib gw hanya digaji kurang dari 500.000 tiap bulannya, sementara dia uda punya istri dan anak.

Dan omongan babeh bikin pilar tekad gw untuk maju bersama, untuk pulang, jadi sedikit goyang. Apa kalimat-kalimat babeh untuk gw? Read below.

*******

Sejak dulu, arahan dari kakek dan nenekmu, ayah dibekali dengan pola pikir berbeda dari anak-anak kebanyakan. Orang-orang tua jaman dulu itu sengaja “ngurung” anaknya supaya di deket mereka, bantu mereka di pekerjaan. Sementara, orang-orang kampung jaman dulu pekerjaannya ngga akan jauh-jauh dari pertanian.

Kakek dan nenekmu mikirnya uda beda. Sebagai orang yang berkecukupan di kampungnya, mereka malah ngejualin tanahnya. Ngejualin tanah untuk biaya sekolah kami, anak-anak mereka. Mereka suruh kami menimba ilmu di tempat yang jauh, dan mencari kehidupan yang lebih baik dari seorang petani di kampung.

Kamu tau, petani di kampung itu pendapatannya kecil. paling-paling cuma bisa untuk makan. Maka dari itu, kakek sama nenekmu mikir, anak-anak mereka jangan jadi orang yang sama. Pernah memang, nenekmu sedih dan nyuruh ayah untuk cari kerja di deket mereka aja, biar anak deket sama orang tuanya. Tapi nenekmu justru dimarahi sama kakekmu. “Kalo mereka bisa dapet kehidupan yang lebih baik di rantau, kalo mereka punya ilmu dan bekal yang cukup buat hidup dengan taraf lebih baik dari kita di rantau, jangan dihalang-halangi!”

Jadi inilah kita. Ayah sama mamah hidup jauh dari kampung halaman. Kami ngga jadi petani, dan sekarang kita punya rumah yang lebih bagus dari rumah-rumah biasa.Kami cukup bahagia, mungkin lebih bahagia daripada hidup sederhana di tempat kelahiran kami.

Dan kami menerapkan hal yang sama ke anak-anak kami.
Ayah sama mama mendidik kalian, memberi kalian bekal untuk bertahan di keadaan dan suasana apapun. Kalau kami ngga bisa kasih bekal tertentu, kami titipkan kalian di orang-orang yang bisa ngajari kalian kekurangan itu. Kalian dapat dari guru-guru di sekolah. Kalian dapat dari orang-orang lain yang kami mintai tolong. Itu kami siapkan untuk bekal kalian pergi jauh.

Sebetulnya ada memang, keinginan ayah untuk bisa dikunjungi sama kalian. Gimana-gimana, kalo orang tua sakit, ngeluhnya pasti ke anaknya. Tapi ini uda hidup ayah, ini resiko yang harus ayah tanggung. Ayah mengajari kalian untuk hidup lebih baik di rantau, ngga untuk mengemis-ngemis minta dimanja di hari tua. Ayah sendirian di sini so be it, itu hidup ayah. Dunia kita sama, tapi hidup kita beda. Kamu ngga lantas harus menyesuaikan kehidupanmu dengan kehidupan ayah.

*******

Dan keputusan ayah untuk merantaukan kalian, bukan keputusan yang ngambang. Ini keputusan bulat kami, dan kami wujudkan dengan beberapa hal.

Kamu pasti tau kenapa nama kakakmu Erythrina. Itu nama latin dari pohon akasia. Akasia ini pohon yang mengganggu di Taman Nasional Baluran, karena pertumbuhannya terlalu cepat dan memonopoli persediaan air untuk tanaman lain, lebih-lebih Baluran itu gersang. Akasia itu parasit. 20 tahun kami memerangi akasia di situ, dan kami bahkan belum bisa 100% membasminya. Kami ingin anak pertama kami tangguh seperti pohon akasia, bukan dilihat dari cara bertahan hidupnya yang merugikan, tapi dilihat dari tangguhnya dia meskipun puluhan tahun diperangi oleh orang-orang kehutanan.

Kamu apsti tau kenapa namamu Y*** Liberta. Liberta itu kebebasan. Ngga perlu penjelasan panjang lebar tentang perwujudan tekadi kami di namamu. Namamu itulah harapan kami akan kamu. Terbanglah sebebas mungkin, pergilah dari sarangmu sejauh mungkin.

…dan kamu tau? Ari-ari kalian ngga ada yang dikubur.
Ari-ari kalian berdua dilarung ke laut lepas.

*******

Fuck. I Can’t argue with that statements.
I just can’t argue.
Not because he’s my father, not because i can’t fight him, not because i must obey him…..

But I just simply understand the weight of his story, and… It’s too heavy to be argued. Looks like the old lion still has his sharp fangs and unmatched dignity.

 
2 Comments

Posted by on January 22, 2013 in Voice of Pieces

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Homecoming: Banyuwangi

Gw datang ke Banyuwangi. Yeah, my dearest city which raised me in my early age. Kota ini masih ngga banyak berubah. Orang-orangnya yang masih ngobrol pake bahasa daerah, dengan logat daerah. Medhok. Jalan-jalannya sumpah SEPIBANGET -kosong malah- di jam 11 malem (pengen gw foto pake camera360, tapi si Anam ga mau berenti). Kota kecil yang jantung kotanya masih berada di sebuah simpang lima. Masih gini-gini aja. Yea, the dragoons are left, and time does slow here~

Tapi, perubahan memang terjadi. Banyak bangunan-bangunan baru. Banyak bangunan lama yang peruntukannya sudah untuk hal baru. Banyak jalan yang dirombak. Gosh. Uda berapa lama kota ini gw tinggal? She turning herself a beauty.

Well, gw juga berubah, Banyuwangi. Mungkin waktu untuk lw lambat, tapi itu juga gegara jangka hidup lw juga panjang. Lw uda hidup lebih dari 100 tahun, so perubahan dalam kurun waktu 5-10 tahun mungkin terbilang “cepet” menurut lw. Sementara itu, life span kami sebagai manusia, apapun tipe kami, tetep lebih terbatas. Perubahan lebih cepet lagi untuk kami.

Gw pulang masih pake ransel polo butut gw. Masih bawa-bawa sepatu, masih pake baju dan celana butut. Tapi kali ini gw terbang, alih-alih kereta. Yeah, gw berubah, Banyuwangi. Gw berubah.

Gw sempet maen sama kakak dan kakak gw di Denpasar. Gw masih moneyless, as usual, but at least gw bahagia. Dan fakta bahwa kakak-kakak gw all out nerima gw bikin gw lebih betah. Gw main di mall baru di bilangan sekitar Kuta. Gw jalan-jalan. Makan mibaso ala Bali. dan dapet BANYAK video-video keren kualitas superHD.

Di sini, di Banyuwangi, gw juga mengalami hal-hal yang bikin nostalgia terulang lagi. Gw menghabiskan malam berdua sama sohib gw, si Anam. Kami masak bareng, makan bareng, dan gw dengan bejatnya ngorok duluan, ninggalin dia main Chuzzle. LOL. Dulu kami pas masih SMA sering gini. Masak bareng, begadang nonton film, main PS. Dulu, kami masih sekolah. SMA. Gw SMA Glagah, dia SMANTA. Dulu, 2001-2003an.

Sekarang 2013, 10 tahun kemudian, hal-hal yang mirip terulang lagi. Kami masak bareng, ngabisin malem bareng. Sekarang kami berubah, kami beda. Dia uda punya istri dan anak. Gw kerja di Bandung. Dia kerja masih dengan pola pikir Banyuwangi, sementara gw uda punya pola pikir Banyuwangi dan Bandung. Banyak argumen-argumen kami yang berakhir dengan dominasi pemikiran gw, dan bikin gw agak males nerusin sharing ide, sebenernya. Maapin awak, Nam. =))

2013, internet masuk rumah gw. Smart****. Dan inilah gw, updating Terravoices dengan modem super panas yang bahkan ngga bisa gw pegang lama-lama. Tapi ngapain juga lah ya pegang-pegang modem panas lama-lama. LOL

Gw bahagia disini.

Banyuwangi ngewelcome gw dengan cantiknya, dan istana bokap gw menjamu gw dengan rasa aman, sementara dunia gw menyambut gw dan bates sebagai satu kesatuan, “Yoga”. Ini dunia yang gw kenal.

 
2 Comments

Posted by on January 21, 2013 in Voice of Pieces

 

Tags: , , , , , , , , ,

Right and Wrong

Untuk pengadilan resmi, seseorang yang dinyatakan bersalah dijatuhi hukuman, yang sekiranya bikin orang itu kapok untukmelakukan kesalahan yang sama. At least, itulah yanggw rasa kalo lihat sistem pngdilan negara kita. Gw ngga ikut campur masalah sistem peradilan negara, itu bukan urusan gw. Apa yang bakalgw bahas di sini adalahpendapat pribadi gw tentang benar-salah, dagn gimana gw menyikapinya.

Gw males memutuskan seseorang itu benar atau salah. Soalnya, menurut gw, tolak ukur kebenaran tiap orang itu relatif. Ada satu hal yang dianggap benar oleh seseorang, tapi dianggap salah sama orang lain. Ada satu hal dianggap benar oleh sebuah lingkungan, tapi dianggap salah oleh sesorang di dalam lingkungan itu. Ada juga kejadian sebaliknya, sesuatu dianggap benar oleh seseorang, tapi disalahkan oleh lingkungannya.

Tolak ukur kebenaran tiap orang beda-beda. Gw yang sekarang lebih suka mencari titik temu antara dua pendapat yag berbeda dari orang-orang yang terlibat pada suatu masalah.

*******

Kalo gw menengahi masalah, sebisa mungkin gw jadi moderator di antara kedua belah pihk. Gw cari “kebenaran” dari salah satu pihak, dan gw cari “kebenaran” menurut pihak lain, thus, gw berusaha mencari hal yang bisa diterima kedua belah pihak, mencari “kebenaran” yang bisa mereka terima.

Contoh kasus sederhana.
Ada satu orang yang belajar freestyle PIU, dan dia lebih suka belajar dari orang lain. Tiap gerakan dari orang lain “disadap” dan dikembangkan. Sementara itu, orang yang disadap ngga terima,dan hubungan mereka memburuk.

Gw nggak lantas bilang si tukang tiru ini salah. Gw juga nggak langsung bilang si orang yang ditiru ini terlalu mempermasalahkan hal sepele. Dari kacamata masing-masing, kedua orang ini merasa saling bener, dan merasa pihak lain adalah pihak yang salah.

Yang bakal gw lakukan adalah mempertemukan mereka. Gw bakal bilang apa masalah mereka. Gw bakal membeber “kebenaran dari kedua belah pihak, dan dari situ, gw bakal berusaha ngajak mereka untuk mencapai kesepakatan, mencapai solusi, tanpa menyalahkan pihak yang lain, tanpa membenarkan diri sendiri.

Solusi paling bagus yang gw pikirkan adalah ngasi saran ke tukang tiru supaya lebih mengembangkan gerakan yang dia tiru biar dia punya ciri khas meski gerakannya hasil tiruan. Sementara itu, gw bakal bilang ke pihak lain supaya lebih toleran, dan bahkan bagi-bagi gerakannya biar bisa dikembangkan orang lain, terus balik dipelajari lagi sama si sumber gerakan, supaya kedua pihak bisa saling belajar.

See? Ngga perlu ada yang dibenarkan, ngga perlu ada yang disalahkan,dan solusi bakal tercapai juga pada akhirnya.

*******

Gw mencoba untuk selalu menerapkan hal ini tiap saat, mengingat gw merasa apa yang gw lakukan paling tidak bakal jadi inspirasi untuk beberapa orang. Gw harap, kalau paham ini bisa diterima oleh mereka, mereka jadi bisa menerapkan hal ini di kehidupan masing-masing, dan mempengaruhi orang terdekat mereka untuk mengadaptasi mindset ini, gitu seterusnya, berharap apa yang gw yakini ini juga diyakini dan dilakukan oleh lebih banyak orang.

*******

Kenapa sih gw ngga dengan gampangnya bilang “lu salah, lu bener”? Memang gw sering menyarankan solusi untuk orng lain, dan dengan kata lain gw mungkin bakal bilang, “harusnya lu blablabla”. Tapi gw ngga lantas menyalahkan orang tersebut dengan gw ngomong hal kaya gitu. Gw memang menyarankan sesuatu, tapi hal itu hanya sebagai saran doang, karena menurut gw apa yang dilakukan seseorang itu bener di mata dia, tapi toh terlihat salah di mata orang lain = ada hal lain yang lebih baik yang bisa dilakukan.

Ada beberapa hal negatif dari “mencari siapa yang benar dan siapa yang salah”. Kalo dibikin list, ini hal-hal jeleknya:

  1. Orang yang membenarkan/menyalahkan sikap seseorang, berarti dia NGEJUDGE orang itu. Gw ga suka dijudge, dan gwsebisa mungkin ngga ngejudge.
  2. “Vonis” “benar” untuk seseorang bisa bikin dia sedikit “merasa tinggi” dan mungkin bakal bikin dia sombong, dan karena merasa dia dianggap benar, dia terus maksa hal yang dia anggap benar itu ke orang lain. Padahal di awal tulisan ini gw bilang, standar kebenaran dan kesalahan orang lain itu beda-beda.
  3. Vonis salah untuk seseorang bisa bikin dia ngga yakin akan diri sendiri. Nantinya dia bakal susah bersikap karena takut salah lagi. Nanti dia bakal merasa rendah, dan jadi orang plin plan yang pusing dengan pemikiran “what should i do?” Nantinya dia jadi susah maju.
  4. Gw bakal dijugde “memihak”, padahal sebisa mungkin gw bersikap netral kalo ada masalah.

Jadi bakal lama dong menyelesaikan solusi. Mending lebih gampang nunjuk seseorang salah dan seseorang bener, supaya masalah cepet selesai.Praktis kan Wam?

Yea, praktis, tapi menyisakan ketidak puasan gede dari orang yang dituding salah. Daripada sibuk ngurusin ego kaya gitu,mending gw ngajak mereka untuk mencari solusi tengah dari dua pendapat berbeda.It’s easier for me to do so.

*******

Gw ngga berusaha menggurui orang. Gw ngga nyuruh kalian untuk melakukan hal-hal yang jadi dasar pemikiran gw, itu hak kalian. Kalo kalian bisa menanggung efek dari keputusan bener/salah itu dan tetep cari siapa yang bener dan siapa yang salah, gw sih ga akan peduli. Gw anggap orang itu uda sadar atas kondisi negatif yang mungkin terjadi,dan gw harap dia siap nerima 4 hal minus di atas.

Kalo lw bisa mengesampingkan siapa yang bener dan siapa yang salah, kalo lw bisa langsung bergerak mencari solusi dan memberi sedikit pengertian ke orang-orang lain untuk lebih toleransi terhadap pola pikir orang-orang lainnya, DAN KALO GW MENYINGGUNG hal itu, trus dibales, “Ini gw belajar dari lw…”, gw ngga bakal menganggap itu sebagai pujian atau pernyataan terima kasih untuk gw.

Kenapa? Itu bukan gw yang ngajari. Itu merupakan keputusan lw sendiri. Berarti lw menganggap pola pikir gw bagus untuk diterapkan, dan LW MEMUTUSKAN untuk mengadaptasi pola pikir itu. Yup. Yang harus dapet pujian itu bukan gw, tapi lw sendiri. Kenapa? Karena lw bisa menyeleksi pola-pola pikir, dan lw bisa memutuskan untuk menerapkan pola pikir yang lw anggap bener. Yang patut dapet pujian itu lw sendiri.

Sebaliknya, klo lw melihat sikap negatif gw, melihat gimana kasarnya gw, melihat berbagai perilaku gw yang negatif, dan kemudian menerapkannya, gw ngga mau jadi kambing hitam dari sikap lw itu.

Misal ada adek gw yang merokok, dan waktu ditanya, jawabannya “Ini kan gara-gara kak Awam. Aku liat kak Awam merokok, kenapa aku gak boleh?”, gw juga ga mau jadi kambing hitam. Soalnya segala sikap negatif gw yang lw sadap itu bukan tanggung jawab gw. Itu tanggung jawab lw masing-masing, apakah sebuah sikap layak untuk diadaptasi atau harus ditinggal. Itu keputusan lw. Kalo lw memutuskan untuk menyadap sikap-sikap negatif gw, itu keputusan lw, dan kalo sikap itu dianggap salah, berarti yang harus disalahkan adalah lw.

Jangan sepenuhnya salahkan bandar narkoba untuk fenomena rusaknya generasi anak muda, salahkan anak mudanya juga karena ngga punya filter yang kuat atas mana yang benar dan mana yang salah.

*******

Makin jauh lagi, gw menganggap orang-orang yang menyalahkan pihak/hal lain atas kesalahannya sendiri adalah termasuk orang-orang yang masih punya pemikiran anak kecil. Kenapa anak kecil? Sering lah kita lihat anak kecil yang saling menyalahkan temennya kalo geng mereka melakukan hal-hal negatif, kan? Karena anak kecil cenderung punya mental egois dan blum punya kekuatan yang cukup untuk introspeksi diri.

So, guys and gals, be mature. Kalo kalian melakukan hal yang dianggap negatif, jangan melemparkan kesalahan, apalagi dengan alasan yang ngga masuk akal. Lingkungan bukanlah hal yang ideal untuk jadi guru sikap-sikap kalian. Seringkali lingkungan justru melakukan hal, yang seharusnya jadi bahan pembelajaran untuk dihindari.

Kalo kalian menelan bulat-bulat apa yang ditunjukkan oleh lingkungan, itu berarti kalian masih punya mental labil yang bisa dipengaruhi dengan mudah. kalau kalian menyalahkan lingkungan karenanya, itu berarti kalian belum cukup kuat untuk bertanggung jawab akan kesalahan yang kalian perbuat.

Ingat, kalian masing-masing juga punya andil untuk mengubah lingkungan kalian. Gw selama ini selalu berusaha untuk kebahagiaan semua orang-orang di sekitar gw, dan “ngga mencari siapa yang benar dan siapa yang salah” adalah salah satu usaha gw untuk itu. Sebaiknya kalian juga mulai berusaha untuk mengesampingkan kebahagiaan diri sendiri, mengesampingkan eoisme, untuk dunia yang lebih baik lagi.

Kita sama-sama belajar untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing.

 
Leave a comment

Posted by on January 19, 2013 in Voice of Pieces

 

Tags: , , , , ,

Judging People. Kita Ga Mau Di-judge, Tapi Sebagian Dari Kita Toh Tetep Ngejudge Orang.

If you don’t know, please ask.
If you don’t agree, argue
If you don’t like it, please say it.
But don’t sit there quiet and judge me.

*******

Beberapa waktu yang lalu ada seseorang curhat ke gw. Dia bilang kalo dia dijudge sama temen-temennya. Gw lupa temen-temennya berkesimpulan apa tentang dia, pokoknya waktu itu dia kasian banget. Gw berusaha memperkuat hatinya, dan mungkin caranya salah ya, jadi ga masuk ke dia. Malah kalo gw ada didepannya udah ditabok kali. Haha.

Tau ngga? Sakitnya, sekarang dia yang ngejudge gw. Dan setelah dia mengambil satu kesimpulan tentang gw berdasarkan fakta yang dia ambil, dia menutup pintu fakta dari arah-arah lain.

“Pokoknya yang gw tau si Awam itu ya emang gitu,” pikirnya, meski gw sampe bebusa-busa nyoba ngobrol sama dia. Nope. No response. In the end, dia ngelanjutin hidup aja tanpa gw. Time goes by. Tapi barusan gw dapet bocoran, ternyata dia masih ngejudge gw seperti apa yang dia bayangkan. Sayang banget. Dia udah tau rasanya dijudge orang, tapi ga ambil pelajaran darisitu, dia gantian yang ngejudge orang lain.

Sayang yang kedua, dia menyimpulkan sesuatu itu dari pemikirannya sendiri. Fakta dari temen-temennya ngga dianggap, fakta dari gw ngga didenger. Jujur, gw masih belum tau gimana cara mersinggungan dengan orang-orang seperti ini.

Sayang yang keempat, sayang, frase “belajarlah dari pengalaman hidup” sepertinya susah diterapkan oleh beberapa tipe manusia. Sayang banget.

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2013 in Voice of Pieces

 

Tags: , , , , ,

Egoism. How Do I Deal With That Shit?

Masih berkutat di urusan sifat-sifat yang gw benci.

Lw pernah egois? Gw pernah.
Ceritanya dulu, kelas 5 SD, gw mau main sama temen-temen gw. Gw ajak temen-temen gw dateng ke rumah. Waktu itu kakak gw, cewe, lagi PMS kali yah. Atau kenapa. Tiba-tiba doi sewot. Marah ngga jelas. Temen-temen gw diusir. Waktu itu gw ngga tau alasan dia apa, gw ngga suka temen-temen gw diusir. Gw marah, dan kami tengkar. Gw waktu itu ngga mau tau apa alasannya. Dan gw ngga tanya.

Parahnya, sambil nangis-nangis, gw ninju perut si kakak sekuat tenaga. A straight punch, melampiaskan kekesalan karena keinginan gw dihalang-halangi. Si kakak seketika megangi perutnya, sambil nangis dan lari masuk kamar. Dikunci. Gw juga nangis di ruang tengah. Yep, dari suaranya, kedengeran kalo si kakak juga nangis berkepanjangan. Kami sama-sama nangis, karena mempertahankan keinginan kami. Satu rumah, dua tangisan, karena dua pendapat yang berbeda. Toleransi masih belum menyapa kami di usia kami yang sama-sama masih kecil.

*******

Gw cuek. Saking cueknya, gw sering ngga mengingat hal-hal kecil. Gw selalu lupa gw makan siang apa 2 hari yang lalu, karena gw ngga ngitung-itung nutrisi yang masuk badan gw. Gw sering lupa rute jalan ke rumah temen gw, karena gw lebih concern ke interaksi sama temen gw itu sepanjang jalan. Tapi tengkar sama kakak ini selalu membekas di hati, dan masih inget sampe sekarang. Kenapa? Karena dari situlah, gw ngerasain penyesalan. Itu penyesalan besar pertama dalam hidup gw.

Kakak gw cewek. Gw nyesel karena udah ninju dia. Kakak gw punya alasan, dan gw nyesel karena gw ngga bisa memahami alasan dia. Sampe sekarang gw ngga tau apa alasan dia ngusir temen-temen gw, dan sekarang gw ngga peduli. Gw nyesel udah egois. Dari situ, perasaan toleransi gw muncul. Gw ngga mau ngerasain penyesalan seperti itu, dan makin lama gw belajar untuk makin memahami orang lain. Belajar memahami alasan orang lain. Dan, sebagai gantinya, gw juga berusaha menjelaskan maksud perlakuan gw, berharap gw menemukan jalan tengah dari keegoisan kedua belah pihak.

*******

Itu pengalaman pertama gw berurusan sama yang namanya keegoisan. Makin kesini, gw makin menyadari, bahwa egoisme hanya berujung ke hal-hal yang ga enak. Kesalahan bersikap, contohnya. Penyesalan juga. Dan yang paling parah, kita berpotensi menyakiti hati orang lain. Orang bakal sakit nerima keegoisan kita.

Perasaan itu berat lho. Berat banget. Mau tahu seberapa berat apa yang namanya perasaan? Let me explain a little bit how dangerous a feeling is.

  1. Perasaan bersalah yang terlalu gede bisa bikin seseorang jadi gila, atau bahkan bunuh diri. Contohnya ada banyak.
  2. Perasaan disakiti yang terlalu gede juga punya akibat yang sama, dan contohnya juga banyak. Misalnya aja ada seorang boss yang dibunuh karyawannya karena si boss sering nyindir karyawan tersebut. Yep. Ada lho, cuma karena nyindir doang. Yang gara-gara senggolan saling bunuh aja ada.
  3. Kesalahan bersikap, sayangnya, ujungnya juga bisa menyebabkan hal yang sama.

Gitu. Hm? Enteng? Nyawa orang ngga ada harganya di mata lu? Lu manusia, bukan?

*******

Karena ujungnya hal gede, gw ngga main-main sama egoisme. Menurut gw egoisme memang ada di setiap manusia. Kadarnya pun beda-beda. Tapi Berhubung gw ngga nganggap egoisme itu hal enteng, gw juga jarang membiarkan egoisme bertahan tanpa tersalurkan. Egoisme berlebih yang ngga disalurkan bisa memicu perasaan bersalah, atau perasaan disakiti, atau juga kesalahan bersikap. Dan ujungnya berpotensi untuk memicu hal-hal sadis yang gw sebut di atas.

Dengan menyalurkan egoisme, kadar egoisme yang bertumpuk di seseorang bisa berkurang, dan menurunkan kadar “bahaya” yang mungkin bisa timbul karenanya. Gimana caranya menyalurkan egoisme itu? There’s no ther way: DISKUSI.

Diskusi, kadang ngga bisa menemukan win-win solution, memang. Diskusi ngga selalu bisa bikin kedua belah pihak puas. Tapi setidaknya, kadar egoisme itu tadi bisa menurun nilainya. Makanya, kalo misal ada suatu sikap egois dari seseorang yang ngga bisa gw terima (dan ini jarang), gw bakal maksain diri buat diskusi sama dia. Dia ngga mau diskusi? Gw bakal paksa sampe dia hadap-hadapan sama gw. Gw tarik paksa kata-katanya biar keluar. So, sori buat orang-orang yang sering gw jatohin mentalnya waktu gw “interogasi”. I just can’t stand egoism, especially when it is locked inside you. I determine myself to take it out, even it means hurting you. In fact, i’m trying to avoid any worse effect furthermore.

*******

Beda kalo gw melakukan sesuatu yang mungkin menurut orang lain egois. I have my own reason, dan itu pun pasti punya dampak positif ke lw-nya. Nyuruh adek gw ambilin minum ke kantor game center, misalnya. Gw terlihat egois? Memang. Tapi di satu sisi gw juga “maksa” si adek ini supaya punya keberanian untuk masuk kantor, berbicara dengan “orang resmi” dan belajar berinteraksi dengan “superior”. Contoh yang lain, gw maksa adek gw mainin lagu dengan level diatas dia. Gw memang seenaknya milih level, tapi itu juga melatih dia buat tanggung jawab mengejar panah sampe akhir, thus melatih dia untuk “mengusahakan yang terbaik”, bahkan ketika menghadapi hal di luar kapasitas dia.

Dari sini ada dua hal bertolak belakang yang terlihat. Mungkin beberapa diantara kalian bakal menyebut gw egois. Mungkin beberapa dari kalian melihat dengan sudut pandang berbeda, nyebut hal yang gw lakukan adalah perlu untuk sarana pembelajaran orang yang bersinggungan dengan gw. Nah, gimana kalo kalian lebih merasa gw egois?

Simple, just express it. “Ngga mau ah kak,” atau “Levelnya turunin ah kak,” ato yang lain. Mungkin gw bakal tetep maksa, mungkin juga gw bakal “oh iya, ya? Yasuda, gini aja deh…”.

  1. Kalo gw tetep maksa, mungkin lawan bicara gw memang kesel. Dongkol. Tapi setidaknya egoisme itu ngga numpuk di dianya. Setidaknya dia uda melampiaskan egoisme itu ke gw, meski ngga gw tanggapi.
    In the end, kalo ternyata lawan bicara gw itu memenuhi keegoisan gw, pasti dia juga bakal puas-puas sendiri. Kalo kualitas mentalnya masih ngga bagus dia bakal tetep kesel sih, tapi itu udah bukan urusan gw. Yang gw tau si dia udah menyelesaikan dengan baik, dan gw anggap ada peningkatan “ilmu” yang dia rasain, thats enough for me. Perkara dia ngerasa sebel ke gw ato apa, gw terima-terima aja kok. Gw rela jadi iblis asal adek-adek gw bisa lebih baik lagi dari gw.
  2. Kalo lawan bicara gw berhasil meyakinkan gw bahwa gw terlalu egois dan akhirnya gw melunak, dia pasti merasa puas. Perasaan jeleknya jauh berkurang. Memang mungkin bakal ada rasa ngga puas dari gw, tapi itu juga bukan masalah yang berarti menurut gw. Case closed.

See? Diskusi itu bisa menyelesaikan segala perasaan emosi dan egoisme kok. Entah solusinya win-win solution, atau win-lose solution, atau lose-win solution, atau bahkan lose-lose solution sekalian, diskusi pasti bakal membuka keran ego seseorang, dan dengan demikian, hal terjelek yang bisa diakibatkan oleh luapan keegoisan bisa dihindari dengan sukses.

*******

That’s why gw paling benci sama orang yang egois tapi ga bisa diskusi. GW PALING BENCI orang yang kaya gini.

Kalo orang yang egois dan ga bisa diskusi ini orang yang ngga gw kenal, gw ga peduli. Tapi makin deket seseorang itu ke gw, bakal makin kesel gw kalo dia ngga bisa diajak ngobrol. Maunya apa? Gw ga akan tau. Mau gw apa, dia juga manabisa tau. Jadi tujuan dia diem itu apa? Ga ada yang tau.

Kalo tujuannya memperkeruh hubungan, ya, dia sukses.

Oke, sekarang coba balikin kata-kata itu ke gw. Gw lagi marah, misalnya. Gw memang ga bisa diskusi. Makin dipaksa, gw makin berontak. Soalnya itu bukan gw, itu bukan Awam yang negotiable. Itu Bates. Tapi kalo keadaan memang membutuhkan gw untuk diskusi, gw tetep mau diskusi kok. Dan gw orangnya ngga keraskepala, gw bukan manusia batu. Kalian ngotot dikit aja mungkin gw uda bocor. And maybe some of you are already know how we, ErShin and Bates, deal with communications.

WORDS ARE INNOCENT AND PURE, BUT POWERFUL FOR SOMEONE WHO KNOWS HOW TO COMBINE THEM AND UNDERSTAND THEIR CORE.

Untuk kami, kata-kata itu JAUH lebih sakral dari apa yang manusia duga pada umumnya.

*******

Back to topic. Gw benci sama orang egois yang langsung bereaksitanpa diskusi berarti kan– tanpa mempedulikan faktor lain: (1) Perasaan orang dan (2) keadaan –suasana– sekitar. Selain orang yang langsung bereaksi, ada satu lagi tipe orang yang lebih gw benci: orang-orang yang NGGA MAU diajak diskusi.

Orang-orang yang ngga mau diajak diskusi ini tipe orang paling gagal menurut gw.

  1. Tanpa diskusi, berarti dia menutup pintu fakta dari manapun selain dari dirinya sendiri = DIA NGJUDGE ORANG LAIN. Gw ngga perlu ngejelasin seberapa salah sikap ini, kan ya?
  2. Tanpa diskusi, dia menutup keran egoismenya sendiri. Kalo pemikirannya salah, dia bakal tetep buruk sangka, atau tetep salah menilai seseorang. Orang dengan pemikiran sesempit itu udah menurunkan nilainya sendiri di mata orang lain.
    Bahkan kalo pemikirannya bener pun, dia tetep salah karena dia menyimpan kebenaran itu untuk dirinya sendiri. Dan itu juga salah.
  3. Tanpa diskusi, seseorang bakal membuat orang-orang lain geregetan. Sebel, kesel. Well, Semua orang perlu didenger. Terserah seseorang kalo dia ngga mau ngomong, ngga mau didenger orang, Tapi tekankan ini: orang lain butuh didenger juga.
    Dan orang yang ngga didengerin sama orang lain, bakal menumpuk perasaan kesel itu. Kalo ngga dihandle dengan baik, kesel ini bisa berubah jadi marah, benci, dan bahkan paling parah: dendam. Perasaan yang ngga tersampaikan bisa mencelakakan orang yang menutup alirannya, trust me.

*******

Gw akui, kadang gw juga egois. Mungkin gw melakukan hal yang menyebalkan, yang ngga bisa diterima orang lain, padahal maksud gw itu pengen meningkatkan kualitas mental dari seseorang. Dan mungkin gw bakal diem aja, ngga cerita apa-apa ke orang-orang yang terlibat, karena gw ngga mau kedok gw “terbongkar” kalo gw sebenernya pengen meningkatkan kualitas orang lain. Biarlah gw dianggap “jahat” asalkan orang yang “gw jahati” bisa berubah jadi lebih baik lagi. Dan gw sengaja ngga cerita. Kalo gw ketauan (pura-pura) jahat, kalo maksud terselubung gw ketauan, orang itu bakal ngga seberubah yang gw harapkan. Too naive for you? Well, that’s me, anyway.

“Padahal cerita aja, kan kalo orang lain ngerti mah semua bakal berjalan dengan lancar, kaya deskripsi lu tentang solusi dari diskusi tadi,” mungkin ada diantara kalian yang berpikiran seperti itu.

Well, untuk menjelaskan itu, biar gw utarakan ke dalam poin-poin, kenapa gw kadang keliatan egois, jahat, dan menyembunyikan “niat asli” yang ada di dalamnya:

  1. Kalo gw ketauan pura-pura jahat, seseorang ngga akan seberubah macem apa yang gw harapkan. Buat beberapa orang selebor, belajar dari rasa sakit jauh lebih efektif dari belajar dengan dituntun pelan-pelan.
  2. Kalo niat asli gw ketauan sama satu orang (mungkin gw bocor, supaya gw ngga dianggap jelek sama si orang itu), fakta itu bisa NYEBAR dan sampe ke telinga orang yang gw jahati. Efeknya apa? Ya efek nomer satu di atas. Daripada bocor, mending gw simpen sendiri.
  3. Orang-orang yang ngeliat niat asli gw bisa-bisa bakal nganggap gw “bener” dan orang yang gw jahatin emang “salah” dan ujung-ujungnya dia ga didukung. Padahal, dukungan untuk orang yang gw jahati itu perlu untuk ngejaga stabilitas mentalnya waktu sedang belajar untuk berubah.
  4. Meski gw mengutarakan maksud sebenernya dari sikap gw, beberapa orang pasti menganggap hal itu ngga perlu dilakukan, menyayangkan, dan mungkin mencegah usaha gw.
  5. Gw merasa kualitas pemikiran kebanyakan orang-orang di sekitar gw belum mampu menangkap esensi dari sikap gw. I’ve seen many chance of the future further than you, and you may not understand due to your limited sight of something called reality. Gw jelasin aja ada kemungkinan ga ngerti, ngapain gw harus ngejelasin?

That’s my egoism. Tapi kalo lw masih mempertanyakan sikap gw, kalo lw pengen tau alasan gw melakukan sesuatu, paksa gw buat menghadap ke lw. Meski gw cenderung mendiamkan diri kalo dianggap jahat, tapi kalo lw menunjukkan keinginan kuat untuk diskusi, gw juga bakal luluh kok. Mungkin in the end gw bakal cerita kalo ternyata hal yang gw lakukan sudah tercapai. Kalo engga, berarti memang belum saatnya. Kalo tetep maksa pengen tau, u’d better be a type of person who’s able to keep some secrets.

*******

Hm? Lw merasa postingan gw ini pun meriupakan esensi dari egoisme gw? Memang kok. But gw orangnya discuss-able kok. As usual,

  1. Kalo lw belum bisa menangkap esensi dari perbuatan gw dan menganggap gw jahat, silakan. Yang penting lw mencerna makna tulisan gw dan menghargai diskusi dan toleransi dari kata-kata yang gw tulis, meski memang terasa sedikit “frontal” dan agak kasar.
  2. Kalo lw sependapat, syukurlah.
  3. Kalo lw punya pandangan yang berbeda tentang egoisme, silakan sampaikan ke gw. Mungkin kita bisa diskusi tentang hal ini.

Sincerely,

me.

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2013 in Voice of Pieces

 

Tags: , , , , , , ,